KERUSAKAN JALAN PADA FLEXIBLE PAVEMENT
Flexible Pavement merupakan perkerasan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat yang terdiri dari lapis permukaan, lapis pondasi atas, lapis pondasi bawah dan lapis tanah dasar. Adapun jenis-jenisnya antara lain yaitu:
a) Retak (Crack): merupakan suatu gejala kerusakan permukaan perkerasan yang meyebabkan air pada permukaan dapat masuk kedalam lapisan dibawahnya sehingga dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah. Retak sendiri dibedakan menjadi beberapa macam, yakni:
· Retak Halus,
Ø Kemungkinan penyebab:
1. Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
2. Pelapukan permukaan.
3. Air tanah pada badan perkerasan jalan.
4. Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang stabil.
Ø Akibat :
1. Meresapnya air pada badan jalan sehingga mempercepat kerusakan dan menimbulkan ketidak-nyamanan berkendaraan.
2. Berkembang menjadi retak buaya (alligator cracks).
Ø Dalam tahap perbaikan, sebaiknya dilengkapi dengan sitem aquaproof. diman jika dibiarkan berlarut-larut retak rambut dapat berkembang menjadi retak buaya.
· Retak Kulit Buaya,
Ø Kemungkinan penyebab:
1. Bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik.
2. Pelapukan permukaan.
3. Air tanah pada badan perkerasan jalan
4. Tanah dasar/ lapisan dibawah permukaan kurang stabil.
Ø Akibat:
1. Kerusakan setempat/ menyeluruh pada perkerasan.
2. Berkembang menjadi lubang akibat dari pelepasan butir-butir.
Ø Untuk pemeliharaan dapat digunakan lapis burda, burtu, ataupun lataston. Jika celah≤ 3mm, sebaiknya bagian perkerasan yang telah mengalami retak kulit buaya akibat rembesan air ke lapis pondasi dan tanah dasar diperbaiki dengan cara dibongkar dan dibuang bagian-bagian yang basah, kemudian dilapis kembali dengan bahan yang sesuai. Perbaikan harus disertai dengan perbaikan drainase disekitarnya. Kerusakan yang disebabkan oleh beban lalulintas harus diperbaiki dengan memberi lapisan tambahan.
· Retak Pinggir,
Ø Kemungkinan penyebab:
1. Bahan dibawah retak pinggir kurang baik atau perubahan volume akibat jeni sekspansif clay pada tanah dasar .
2. Sokongan bahu samping kurang baik.
3. Drainase kurang baik.
4. Akar tanaman yang tumbuh ditepi perkerasan dapat pula menjadi sebab terjadinya retak tepi
Ø Akibat:
1. Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan sehingga mengganggu kenyamanan berkendaraan.
2. Retak akan berkembang menjadi besar yang diikuti oleh pelepasan butir padatepi retak.
Ø Cara perbaikan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair & pasir. Perbaikan drainase harus dilakukan, bahu diperlebar, dan dipadatkan, jika pinggir perkerasan mengalami penurunan, elevasi dapat diperbaiki dengan mempergunakan hotmix.
· Retak Sambungan Bahu Perkerasan,
Ø Kemungkinan penyebab:
1. Perbedaan ketinggian antara bahu beraspal dengan perkerasan, akibat penurunan bahu.
2. Penyusutan material bahu/ badan perkerasan jalan
3. Drainase kurang baik.
4. Roda kendaraan berat yang menginjak bahu beraspal.
5. Material pada bahu yang kurang baik/ kurang memadai.
Ø Akibat:
1. Menimbulkan kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan akibat meresapnya air pada badan jalan dan mengganggu kenyamanan berkendaraan.
2. Berkembang menjadi besar yang diikuti oleh pelepasan butir pada tepi retak.
Ø Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir.
· Retak Sambungan Jalan,
Ø Kemungkinan penyebabnyaadalah ikatan sambungan kedua jalur yang kurang baik.
Ø Akibat:
1. Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan dan akanmengganggu kenyamanan berkendaraan.
2. Lepasnya butir pada tepi retak dan bertambah lebar.
Ø Perbaikan dapat dilakukan dengan memasukkan campuran aspal cair dan pasir kedalam celah-celah yang terjadi.
· Retak Sambungan Pelebaran Jalan,
Ø Kemungkinan penyebab:
1. Ikatan sambungan yang kurang baik.
2. Perbedaan kekuatan/ daya dukung perkerasan pada jalan pelebaran dengan jalanlama.
Ø Akibat:
1. Menimbulkan kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan danakan mengganggu kenyamanan berkendaraan.
2. Lepasnya butir pada tepi retak sehingga kerusakan akan bertambah parah.
Ø Perbaikan dilakukan dengan mengisi celah-celah dengan campuran aspal cair dan pasir.
· Retak Refleksi,
Ø Kemungkinan penyebab:
1. Pergerakan vertikal/ horizontal di bawah lapis tambahan (lapisanoverlay)sebagai akibat perubahan kadar air pada tanah dasar yang ekspansif.
2. Perbedaan penurunan (settlement) dari timbunan/ pemotongan badan jalandengan struktur perkerasan.
Ø Akibat:
1. Kerusakan menyeluruh atau setempat pada perkerasan jalan dan akanmengganggu kenyamanan berkendaraan.
2. Lepasnya butir pada tepi retak sehingga kerusakan akan bertambah parah.Untuk retak memanjang, melintang dan diagonal perbaikan dapat dilakukan denganmengisi celah-celah dengan campuran aspal cair dan pasir.
Ø Untuk retak berbentuk kotak, perbaikan dilakukan dengan membongkar dan melapis kembali dengan bahan yang sesuai.
· Retak Susut,
Ø Kemungkinan penyebab:
1. Perubahan volume perkerasan yang mengandung terlalu banyak aspal dengan penetrasi rendah.
2. Perubahan volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar.
Ø Akibat:
1. Retak ini akan menyebabkan meresapnya air pada badan jalan sehingga akan menimbulkan kerusakan setempat atau menyeluruh pada perkerasan jalan danmengganggu kenyamanan berkendaraan.
2. Lepasnya butir pada tepi retak sehingga timbul lubang (potholes).
Ø Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir, dan dilapis dengan burtu.
· Retak Selip,
Ø Kemungkinan penyebab:
1. Ikatan antar lapisan aspal dengan lapisan bawahnya tidak bail yang disebabkan kurangnya aspal/ permukaan berdebu .
2. Pengunaan agregat halus terlalu banyak.
3. Lapis permukaan kurang padat/ kurang tebal .
4. Penghamparan pada temperature aspal rendah atau tertarik roda penggerak oleh mesin penghampar aspal/ mesin lainnya.
Ø Akibat:
1. Kerusakan setempat atau menyeluruh pada perkerasan jalan dan akan mengganggu kenyamanan berkendaraan.
2. Lepasnya butir pada tepi retak sehingga timbul lubang (potholes).
Ø Perbaikan dapat dilakukan dengan membongkar bagian jalan yang rusak dan menggantikannya dengan lapisan yang lebih baik.
b) Distorsi (Distortion): kerusakan yang disebabkan oleh lemahnya tanah dasar, pemadatan yang kurang pada lapis pondasi sehingga terjadi tambahan pemadatan akibat beban lalu lintas. Distorsi ini juga terbagi menjadi beberapa macam, yaitu:
· Alur, Kemungkinan disebabkan oleh lapis perkerasan yang kurang padat, dengan demikian terjadi penambahan pemadatan akibat repetisi beban lalu lintas pada lintasanroda. Campuran aspal stabilitas rendah dapat pula menimbulkan deformasi plastis.Perbaikan dapat dilakukan dengan memberi lapisan tambahan yang sesuai.
· Keriting, dapat diperbaiki dengan cara :
- Jika lapisan memiliki pondasi agregat, digaruk kembali, dicampur dengan lapis pondasi, dipadatkan dan diberi lapis perkerasan baru.
- Bahan pengikat mempunyai ketebalan >5cm, lapis tersebut diangkat dan diberi lapisan baru.
· Sungkur, Kerusakan dapat terjadi dengan atau tanpa retak.Penyebab kerusakan sama dengan keriting. Perbaikan dilakukan dengan dibongkar dan dilakukan pelapisan kembali.
· Amblas, disebabkan oleh beban kendaraan yang melebihi apa yang direncanakan, pelaksanaan yang kurang baik, atau penurunan bagian perkerasan dikarenakan tanah dasar mengalami settlement. Perbaikan dapat dilakukan dengan cara:
- Untuk amblas yang ≤ 5cm, bagian yang pernah diisi dengan bahan yang sesuai lapen, lataston, laston.
- Untuk amblas yang ≥ 5cm, bagian yang amblas dibongkar dan dilapis kembali dengan lapis yang sesuai.
· Jembul, terjadi akibat adanya pengembangan tanah dasar ekspansip. Perbaikan dilakuan dengan membongkar bagian yang rusak dan melapisinya kembali.
c) Cacat permukaan (Disintegration): kerusakan ini terjadi secara kimiawi dan mekanis pada lapisan permukaan, yakni:
· Lubang,Untuk perbaikannyamaka lubang-lubang tersebut harus dibongkar dan dilapis kembali dimana pembongkaran berfungsi untuk meningkatkan daya cengkram antar sambungan perkerasan yang baru dan perkerasan yang lama.
· Pelepasan Butir, Dapat diperbaikidengan meberikan lapisan tambahan di atas lapisan yang mengalami pelepasan butir setelah lapisan tersebut dibersihkan dan dikeringkan .
· Pengelupasan Lapisan Permukaan,Dapat diperbaikidengan cara digaruk, diratakan, dan dipadatkan. Setelah itu dilapis dengan buras. Disebabkan oleh kurangnya ikatan antar lapis permukaan dan lapis bawahnya
d) Pengausan (Polised Aggregate): kerusakan yang terjadi karena agregat bermaterial yang tidak tahan aus terhadap roda kendaraan, agregat yang biasa digunakan adala berbentuk bulat dan licin. Untuk perbaikannyadapat diatasi dengan latasir, buras, latasbum.
e) Kegemukan (Bleeding/ Flusing): kerusakan yang disebabkan oleh penggunaan kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal. Untukperbaikannya dapat diatasi dengan menaburkan agregat panas dan kemudian dipadatkan, atau lapis aspal diangkat dan diberi lapisan penutup.
2. KERUSAKAN JALAN PADA RIGID PAVEMENT
Rigid pavement merupakan perkerasan jalan yang menggunakan beton sebagai bahan utama daripada perkerasan tersebut.
Adapun jenis-jenis kerusakan rigid pavement menurut tata cara pemeliharaan perkerasan kaku No. 10/T/BNKT/1991, dibedakan menjadi:
a) Kerusakan Yang Disebabkan Oleh Karakteristik Permukaan, yang terbagi atas:
· Retak setempat, yakni retak yang tidak mencapai bagian bawah daripada slab.
· Patahan, yakni kerusakan yang disebabkan tidak teraturnya susunan disekitar/ disepanjang lapisan bawah tanah dan patahan pada sambungan slab.
· Deformasi, yakni ketidakrataan pada arah memanjang jalan.
· Abrasi, yakni kerusakan perkerasan permukaan beton yang terbagi menjadi:
- Pelepasan butir
- Pelicinan, dan
- Aus.
b) Kerusakan Struktur
· Retak-retak, yakni retak-retak yang mencapai dasar slab
· Melengkung, dibagi menjadi:
- Jembul
- Hancur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar